10 Tips Super Wanita Sukses Dunia dan Akhirat yang sudah terbukti
10 Tips Super Wanita Sukses Dunia dan
Akhirat
Dalam menjalani hidup ini banyak sekali kejadian yang
menjadikan wanita untuk berfikir, tapi upss tak semua wanita ingin hidup dengan
cara lain setelah mereka sudah merasakan hidup mereka, yang beralasan hidup gak
perlu aneh-aneh, atau sudah nyaman dengan hidup seperti ini, atau bisa lagi
mereka sudah patah semangat untuk membuat suatu kreasi hidup yang lebih baik
lagi.
Wahai
para wanita dambaan suami, disini penulis bukan saja ingin memberikan tips,
tapi disisi lain kita sama-sama saling belajar, karena hidup ini perlu ada
kemajuan, dimana kemajuan tidak hanya didapatkan sekali saja, namun kita coba
sisi lain, gar hidup juga unik, meskipun nantinya merasakan kegagalan, tapi
dari kegagalan lah kita merasakan dan tau pelajaran yang kita dapatkan dari
maslah itu, bukan sebagai halangan, karena figur kita adalah ibunda Khadijah,
dimana beliaulah figure muslimah yang teguh dalam menjalani hidupnya, meskipun
kita belum sempurna menjalankan seperti apa sikap beliau, namun disini penulis
akan sedikit memberikan tips super untuk menjadi Wanita sukses Dunia akhirat.
Tips
Pertama:: Bertakwa kepada Allah dan
menjauhi maksiat
Sesungguhnya kemaksiatan
menghancurkan negeri dan menggoncangkan kerajaan. Maka janganlah engkau goncangkan
rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah dan jangan engkau seperti Fulanah
yang telah bermaksiat kepada Allah
Wahai hamba Allah…
Jagalah Allah, niscaya Dia akan
menjagamu dan menjaga untukmu suamimu dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan
mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan akan mengoyak
hati dan mencerai-beraikan keutuhannya.
Karena itulah, salah seorang wanita
shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata
“Aku mohon ampun kepada Allah… itu
terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku)…”
Maka hati-hatilah wahai saudariku
muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:
– Meninggalkan shalat atau
mengakhirkannya (tanpa alasan yang haq -abu zuhriy) atau smenunaikannya dengan
cara yang tidak benar (seperti tidak melaksanakan rukun dan syaratnya, atau
melaksanakannya tidak sesuai petunjuk dan tuntunan Råsulullåh shållallåhu
‘alayhi wa sallam -abu zuhriy).
– Duduk di majlis ghibah dan
namimah, berbuat riya’ dan sum’ah.
– Menjelekkan dan mengejek orang lain.
– Keluar menuju pasar tanpa
kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram.
– Mendidik
anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para
pembantu dan pendidik-pendidik yang kafir
– Meniru wanita-wanita kafir.
– Menyaksikan
film-film porno dan mendengarkan nyanyian.
– Membaca majalah-majalah lawakan/humor.
– Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.
– Membiarkan suami dalam kemaksiatannya 3
– Bersahabat dengan wanita-wantia fajir dan fasik
– Membaca majalah-majalah lawakan/humor.
– Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan mendesak.
– Membiarkan suami dalam kemaksiatannya 3
– Bersahabat dengan wanita-wantia fajir dan fasik
– Tabarruj (pamer kecantikan)
Tips
kedua: Berupaya mengenal dan memahami
suami
Hendaknya seorang istri berupaya
memahami suaminya. Ia tahu apa yang disukai suami maka ia berusaha memenuhinya.
Dan ia tahu apa yang dibenci suami maka ia berupaya untuk menjauhinya, dengan
catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq (Allah Ta`ala).
Berikut ini dengarkanlah kisah seorang istri yang bijaksana yang berupaya
memahami suaminya.
Berkata sang suami kepada temannya:
“Selama dua puluh tahun hidup
bersama belum pernah aku melihat dari istriku perkara yang dapat membuatku marah.”
berkata temannya dengan heran:
“Bagaimana hal itu bisa terjadi?!”
Berkata sang suami:
“Pada malam pertama aku masuk
menemui istriku, aku mendekat padanya dan aku hendak menggapainya dengan
tanganku, maka ia berkata:
‘Jangan tergesa-gesa wahai Abu Umayyah.’
Lalu ia berkata:
‘Segala puji bagi Allah dan shalawat
atas Rasulullah… Aku adalah wanita asing, aku tidak tahu tentang akhlakmu, maka
terangkanlah kepadaku apa yang engkau sukai niscaya aku akan melakukannya dan
apa yang engkau tidak sukai niscaya aku akan meninggalkannya.’
Kemudian ia berkata:
‘Aku ucapkan perkataaan ini dan aku
mohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.’”
Berkata sang suami kepada temannya:
“Demi Allah, ia mengharuskan aku
untuk berkhutbah pada kesempatan tersebut.
Maka aku katakan:
‘Segala puji bagi Allah dan aku
mengucapkan shalawat dan salam atas Nabi dan keluarganya. Sungguh engkau telah
mengucapkan suatu kalimat yang bila engkau tetap berpegang padanya, maka itu
adalah kebahagiaan untukmu dan jika engkau tinggalkan (tidak melaksanakannya)
jadilah itu sebagai bukti untuk menyalahkanmu.
Aku menyukai ini dan itu, dan aku
benci ini dan itu. Apa yang engkau lihat dari kebaikan maka sebarkanlah dan apa
yang engkau lihat dari kejelekkan tutupilah.’
Istri(ku) berkata:
‘Apakah engkau suka bila aku
mengunjungi keluargaku?’
Aku menjawab:
‘Aku tidak suka kerabat istriku
bosan terhadapku’ (yakni si suami tidak menginginkan istrinya sering
berkunjung).
Ia berkata lagi:
‘Siapa di antara tetanggamu yang
engkau suka untuk masuk ke rumahmu maka aku akan izinkan ia masuk? Dan siapa
yang engkau tidak sukai maka akupun tidak menyukainya?’
Aku katakan:
‘Bani Fulan adalah kaum yang shaleh
dan Bani Fulan adalah kaum yang jelek.’”
Berkata sang suami kepada temannya:
“Lalu aku melewati malam yang paling indah bersamanya. Dan
aku hidup bersamanya selama setahun dalam keadaan tidak pernah aku melihat
kecuali apa yang aku sukai. Suatu ketika di permulaan tahun, tatkala aku pulang
dari tempat kerjaku, aku dapatkan ibu mertuaku ada di rumahku.
Lalu ibu mertuaku berkata kepadaku:
‘Bagaimana pendapatmu tentang
istrimu?’”
Aku jawab:
“Ia sebaik-baik istri.”
Ibu mertuaku berkata:
“Wahai Abu Umayyah.. Demi Allah,
tidak ada yang dimiliki para suami di rumah-rumah mereka yang lebih jelek
daripada istri penentang (lancang). Maka didiklah dan perbaikilah akhlaknya
sesuai dengan kehendakmu.”
Berkata sang suami:
“Maka ia tinggal bersamaku selama
dua puluh tahun, belum pernah aku mengingkari perbuatannya sedikitpun kecuali
sekali, itupun karena aku berbuat dhalim padanya.”5
Alangkah bahagia kehidupannya…!
Demi Allah, aku tidak tahu apakah
kekagumanku tertuju pada istri tersebut dan kecerdasan yang dimilikinya?
Ataukah tertuju pada sang ibu dan
pendidikan yang diberikan untuk putrinya?
Ataukah terhadap sang suami dan
hikmah yang dimilikinya?
Itu adalah keutamaan Allah yang
diberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.
Tips
ketiga: Ketaatan yang nyata kepada suami dan
bergaul dengan baik
Sesungguhnya hak suami atas istrinya
itu besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَوْ
كُنْتُ آمِرَا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ
لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan
seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk
sujud kepada suaminya.” 6
Hak suami yang pertama adalah ditaati
dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya
serta tidak mendurhakainya.
Karena itulah Aisyah Ummul Mukminin
berkata dalam memberi nasehat kepada para wanita:
“Wahai sekalian wanita, seandainya
kalian mengetahui hak suami-suami kalian atas diri kalian niscaya akan ada
seorang wanita di antara kalian yang mengusap debu dari kedua kaki suaminya
dengan pipinya.”8
Engkau termasuk sebaik-baik wanita!!
Dengan ketaatanmu kepada suamimu dan
baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjadi sebaik-baik wanita, dengan
izin Allah. Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam:
“Wanita bagaimanakah yang terbaik?”
Beliau menjawab:
اَلَّتِى
تَسِرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلا تُخَالِفُهُ فِيْ
نَفْسِهَا وَلا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ
“Yang menyenangkan suami ketika
dipandang, taat kepada suami jika diperintah dan ia tidak menyalahi pada
dirinya dan hartanya dengan yang tidak disukai suaminya.” (Isnadnya hasan)
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk
surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada
suamimu, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
اَلْمَرْأَةُ
إِذَا صَلَّتْ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَأَحْصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ
زَوْجَهَا، فَلْتَدْخُلُ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
“Bila seorang wanita shalat lima
waktu, puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya,
ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan.” 9
Tips
keempat: Bersikap qana’ah (merasa cukup)
Kami menginginkan wanita muslimah
ridha dengan apa yang diberikan (suami) untuknya baik itu sedikit ataupun
banyak. Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta
sesuatu yang tidak perlu.
Renungkanlah wahai suadariku
muslimah adabnya wanita salaf radliallahu ‘anhunna… Salah seorang dari mereka
bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat padanya. Apa
wasiatnya? Ia berkata kepada sang suami:
“Hati-hatilah engkau wahai suamiku
dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun
kami tidak bisa sabar dari api neraka…”
Adapun sebagian wanita kita pada
hari ini apa yang mereka wasiatkan kepada suaminya jika hendak keluar rumah?!
Tak perlu pertanyaan ini dijawab karena aku yakin engkau lebih tahu jawabannya
dari pada diriku.
Tips
kelima: Baik dalam mengatur urusan rumah
Seperti mendidik anak-anak dan tidak
menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan
baik dan menyiapkan makan pada waktunya. Termasuk pengaturan yang baik adalah
istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak
berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.
Tips
keenam: Baik dalam bergaul dengan
keluarga suami dan kerabat-kerabatnya
Khususnya dengan ibu suami sebagai
orang yang paling dekat dengannya. Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan
kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas
kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat
kepada Allah semampumu.
Berapa banyak rumah tangga yang
masuk padanya pertikaian dan perselisihan disebabkan buruknya sikap istri
terhadap ibu suaminya dan tidak adanya perhatian akan haknya!!?
Ingatlah wahai hamba Allah,
sesungguhnya yang bergadang dan memelihara pria yang sekarang menjadi suamimu
adalah ibu ini, maka jagalah dia atas kesungguhannya dan hargailah apa yang
telah dilakukannya. Semoga Allah menjaga dan memeliharamu. Maka adakah balasan
bagi kebaikan selain kebaikan?!
Tips
ketujuh: Menyertai suami dalam
perasaannya dan turut merasakan duka cita dan kesedihannya.
Jika engkau ingin hidup dalam hati
suamimu maka sertailah dia dalam duka cita dan kesedihannya. Aku ingin
mengingatkan engkau dengan seorang wanita yang terus hidup dalam hati suaminya
sampaipun ia telah meninggal dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak dapat
mengikis kecintaan sang suami padanya dan panjangnya masa tidak dapat menghapus
kenangan bersamanya di hati suami.
Bahkan ia terus mengenangnya dan
bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi.
Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu
dari istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya.
Suatu hari istri yang lain itu
(yakni Aisyah radliallahu ‘anha) berkata:
مَا
غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ لِلنَّبِيِّ؟ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ هَلَكَتْ قَبْلَ
أَنْ يَتَزَوَّجَنِي، لَمَّا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا
“Aku tidak pernah cemburu kepada
seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti cemburuku pada
Khadijah, padahal ia meninggal sebelum beliau menikahiku, mana kala aku
mendengar beliau selalu menyebutnya.”11
Dalam riwayat lain:
مَا
غِرْتُ عَلَى أَحَدٍ مِنْ نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا
غِرْتُ عَلَى خَدِيْجَةَ وَمَا رَأَيْتُهَا وَلَكِنْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ ذِكْرَهَا
“Aku tidak pernah cemburu kepada
seorangpun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seperti cemburuku pada
Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam banyak menyebutnya.”
12
Suatu kali Aisyah berkata kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah beliau menyebut Khadijah:
كَأَنَّهُ
لَمْ يَكُنْ فِي الدُّنْيَا امْرَأَةٌ إِلا خَدِيْجَةُ فَيَقُولُ لَهَا إِنَّهَا
كَانَتْ وَكَانَتْ
“Seakan-akan di dunia ini tidak ada
wanita selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada Aisyah: ‘Khadijah itu
begini dan begini.’”13
Dalam riwayat Ahmad pada Musnadnya
disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” (dalam hadits diatas)
adalah sabda beliau:
آمَنَتْبِي
حِيْنَ كَفَرَ النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْكَذَّبَنِي النَّاسُ رَوَاسَتْنِي
بِمَالِهَا إِذْحَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللهُ مِنْهَا الوَلَد
“Ia beriman kepadaku ketika semua
orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia
melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang meng-haramkan (menghalangi)
aku dan Allah memberiku rezki berupa anak darinya.”14
Dialah Khadijah yang seorangpun tak
akan lupa bagaimana ia mengokohkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan
memberi dorongan kepada beliau. Dan ia menyerahkan semua yang dimilikinya di
bawah pengaturan beliau dalam rangka menyampaikan agama Allah kepada seluruh
alam
Seorangpun tidak akan lupa
perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah
terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada
kali yang pertama:
وَاللهُ
لا يُخْزِيْكَ اللهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ
وَتَكْسِبُ الْمَعْدُوْمَ وَتُعِيْنُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
“Demi Allah, Allah tidak akan
menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi,
menanggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau
menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.”15
Jadilah engkau wahai saudari
muslimah seperi Khadijah, semoga Allah meridhainya dan meridlai kita semua.
Tips
kedelapan: Bersyukur (berterima kasih)
kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan keutamaanya.
Siapa yang tidak tahu berterimakasih
kepada manusia, ia tidak akan dapat bersyukur kepada Allah. Maka janganlah
meniru wanita yang jika suaminya berbuat kebaikan padanya sepanjang masa
(tahun), kemudian ia melihat sedikit kesalahan dari suaminya, ia berkata:
“Aku sama sekali tidak melihat
kebaikan darimu…”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
telah bersabda:
يَا
مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ اَهْلِ النَّارِ
فَقُلْنَ يَا رَسُولَ اللهِ وَلَمْ ذَلِكَ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ
وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ
“Wahai sekalian wanita bersedekahlah
karena aku melihat mayoritas penduduk nereka adalah kalian.” Maka mereka (para
wanita) berkata: “Ya Rasulullah kepada demikian?” Beliau menjawab: “Karena
kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami.”16
Mengkufuri kebikan suami adalah
menentang keutamaan suami dan tidak menunaikan haknya.
Wahai istri yang mulia! Rasa terima
kasih pada suami dapat engkau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu yang
menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang
dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang
memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu dalam hatinya. Atau memaafkan
kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hakmu. Namun di mana bandingan
kesalahan itu dengan lautan keutamaan dan kebaikannya padamu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda:
لا
يَنْظُرُ اللهَ إِلَى امْرَأَةٍ لا تَشْكُرُ زَوْجَهَا وَهِيَ لا تَسْتَغْنِيَ
عَنْهُ
“Allah tidak akan melihat kepada
istri yang tidak tahu bersyukur kepada suaminya dan ia tidak merasa cukup
darinya.”17>
Tips
kesembilan: Menyimpan rahasia suami dan
menutupi kekurangannya (aibnya).
Istri adalah tempat rahasia suami
dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya (yang
paling pribadi dari diri suami). Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang
tercela untuk dilakukan oleh siapa pun maka dari sisi istri lebih besar dan
lebih jelek lagi.
Sesungguhnya majelis sebagian wanita
tidak luput dari membuka dan menyebarkan aib-aib suami atau sebagian
rahasianya. Ini merupakan bahaya besar dan dosa yang besar. Karena itulah
ketika salah seorang istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebarkan satu
rahasia beliau, datang hukuman keras, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersumpah untuk tidak mendekati isti tersebut selama satu bulan penuh.
Allah Azza wa Jalla menurunkan
ayat-Nya berkenaan dengan peristiwa tersebut. Allåh berfirman:
وَإِذْ
أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ
وَأَظْهَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ
“Dan ingatlah ketika Nabi
membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari isteri-isterinya suatu peristiwa.
Maka tatkala si istri menceritakan peristiwa itu (kepada yang lain), dan Allah
memberitahukan hal itu kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian
(yang diberitakan Allah kepada beliau) dan menyembunyikan sebagian yang lain.”(At Tahriim: 3)
Suatu ketika Nabi Ibrahim ‘Alaihis
Salam mengunjungi putranya Ismail, namun beliau tidak mejumpainya. Maka beliau
tanyakan kepada istri putranya, wanita itu menjawab:
“Dia keluar mencari nafkah untuk
kami.”
Kemudian Ibrahim bertanya lagi
tentang kehidupan dan keadaan mereka. Wanita itu menjawab dengan mengeluh
kepada Ibrahim:
“Kami adalah manusia, kami dalam
kesempitan dan kesulitan.”
Ibrahim ‘Alaihis Salam berkata:
“Jika datang suamimu, sampaikanlah
salamku padanya dan katakanlah kepadanya agar ia mengganti ambang pintunya.”
Maka ketika Ismail datang, istrinya
menceitakan apa yang terjadi. Mendengar hal itu, Ismail berkata:
“Itu ayahku, dan ia memerintahkan
aku untuk menceraikanmu. Kembalilah kepada keluargamu.”
Maka Ismail menceraikan istrinya.
(Riwayat Bukhari)
Ibrahim ‘Alaihis Salam memandang
bahwa wanita yang membuka rahasia suaminya dan mengeluhkan suaminya dengan
kesialan, tidak pantas untuk menjadi istri Nabi maka beliau memerintahkan
putranya untuk menceraikan istrinya.
Oleh karena itu, wahai saudariku
muslimah, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau
tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’i seperti mengadukan perbuatan
dhalim kepada Hakim atau Mufti (ahli fatwa) atau orang yang engkau harapkan
nasehatnya.
Sebagimana yang dilakukan Hindun
radliallahu ‘anha di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hindun berkata:
“Abu Sufyan adalah pria yang kikir,
ia tidak memberiku apa yang mencukupiku dan anak-anakku. Apakah boleh aku
mengambil dari hartanya tanpa izinnya?!”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda:
“Ambillah yang mencukupimu dan
anakmu dengan cara yang ma`ruf.”
Cukup bagimu wahai saudariku
muslimah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِنَّ
مِنْ شَرِ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ
يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ أَحَدُهُمَا سِرُّ
صَاحِبَهُ
“Sesungguhnya termasuk sejelek-jelek
kedudukan manusia pada hari kiamat di sisi Allah adalah pria yang bersetubuh
dengan istrinya dan istri yang bersetubuh dengan suaminya, kemudian salah
seorang dari keduanya menyebarkan rahasia pasangannya.”18
Tips
terakhir: Kecerdasan dan kecerdikan serta
berhati-hati dari kesalahan-kesalahan.
– Termasuk kesalahan adalah:
Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang
dikenalnya kepada suaminya, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
telah melarang yang demikian itu dengan sabdanya:
لا
تُبَاشِرُ مَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَتَنْعَتَهَا لِزَوْجِهَا كَأَنَّهُ يَنْظُرُ
إِلَيْهَا
“Janganlah seorang wanita bergaul
dengan wanita lain lalu ia mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga
seakan-akan suaminya melihatnya.”19
Tahukah engkau mengapa hal itu
dilarang?!
Termasuk kesalahan adalah apa yang dilakukan sebagian besar istri ketika
suaminya baru kembali dari bekerja. Belum lagi si suami duduk dengan enak, ia
sudah mengingatkannya tentang kebutuhan rumah, tagihan, tunggakan-tunggakan dan
uang jajan anak-anak. Dan biasanya suami tidak menolak pembicaraan seperti ini,
akan tetapi seharusnyalah seorang istri memilih waktu yang tepat untuk
menyampaikannya.
Catatan Kaki
- Riwayat Muslim dalam Al-Masajid: (bab Fadlul Julus fil
Mushallahu ba’dash Shubhi wa Fadlul Masajid) ↩
- Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh
Al Albany, lihat “Irwaul Ghalil“, no. 1269 dan “Shahihul Jami’” no. 6149 ↩
- Lihat kitab “Kaif Taksabina Zaujak?!” oleh Syaikh
Ibrahim bin Shaleh Al Mahmud, hal. 13 ↩
- Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, ia berkata: Hadits hasan
gharib. Berkata Al Albany: “Hadits ini sebagaimana dikatakan oleh
Tirmidzi.” Lihat takhrij “Misykatul Masabih” no. 5019 ↩
- Al Masyakil Az Zaujiyyah wa Hululuha fi Dlaw`il Kitab
wa Sunnah wal Ma’ariful Haditsiyah oleh Muhammad Utsman Al Khasyat, hal.
28-29 ↩
- Riwayat Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan Al Albany,
lihat “Shahihul Jami`us Shaghir” no. 5294 ↩
- Riwayat Thabrani dan Hakim dalam “Mustadrak“nya,
dishahihkan Al Albany rahimahullåh sebagaimana dalam “Silsilah Al Ahadits
Ash Shahihah” no. 288 ↩
- Lihat kitab “Al Kabair” oleh Imam Dzahabi hal. 173,
cetakan Darun Nadwah Al Jadidah ↩
- Riwayat Ibnu Nuaim dalam “Al Hilyah“. Berkata Syaikh Al
Albany: “Hadits ini memiliki penguat yang menaikkannya ke derajat hasan
atau shahih.” Lihat “Misykatul Mashabih” no. 3254 ↩
- Hadits lemah, diriwayatkan Hakim dan dishahihkannya dan
disepakati Dzahabi. Namun Al Albany mengisyaratkan kelemahan hadits ini.
Illatnya pada Ibnu Sukhairah dan pembicaraaan tentangnya disebutkan secara
panjang lebar pada tempatnya, lihatlah dalam “Silsilah Al Ahadits Ad
Dlaifah” no. 1117 ↩
- Semuanya dari riwayat Bukhari dalam shahihnya kitab
“Manaqibul Anshar“, bab Tazwijun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Khadijah wa Fadluha radliallahu ‘anha. ↩
- Idem ↩
- Idem ↩
- Diriwayatkan Ahmad dalam Musnadnya 6/118 no. 24908. Aku
katakan: Al Hafidh Ibnu Hajar membawakan riwayat ini dalam “Fathul Bari“,
ia berkata: “Dalam riwayat Ahmad dari hadits Masruq dari Aisyah.” Dan ia
menyebutkannya, kemudian mendiamkannya. Di tempat lain (juz 7/138), ia
berkata: “Diriwayatkan Ahmad dan Thabrani.” Kemudian membawakan hadits
tersebut. Berkata Syaikh kami Abdullah Al Hakami hafidhahullah: “Mungkin
sebab diamnya Al Hafidh rahimahullah karena dalam sanadnya ada rawi yang
bernama Mujalid bin Said Al Hamdani. Dalam “At Taqrib” hal. 520, Al Hafidh
berkata: “Ia tidak kuat dan berubah hapalannya pada akhir umurnya.” Al
Haitsami bersikap tasahul (bermudah-mudah) dalam menghasankan hadits ini,
beliau berkata dalam Al Majma’ (9/224): “Diriwayatkan Ahmad dan isnadnya
hasan.” ↩
- Muttafaq alaihi, diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab
Bad’il Wahyi” dan Muslim dalam “Kitabul Iman” ↩
- Diriwayatkan Bukhari dalam “Kitab Al Haidl“, (bab
Tarkul Haidl Ash Shaum) dan diriwayatkan Muslim dalam “Kitabul Iman” (bab
Nuqshanul Iman binuqshanith Thaat) ↩
- Diriwayatkan Nasa’i dalam “Isyratun Nisa’” dengan isnad
yang shahih ↩
- Diriwayatkan Muslim dalam “An Nikah” (bab Tahrim
Ifsya’i Sirril Mar’ah). ↩
- Diriwayatkan Bukhari dalam “An Nikah” (bab Laa Tubasyir
Al Mar’atul Mar’ah). Berkata sebagian ulama: “Hikmah dari larangan itu
adalah kekhawatiran kagumnya orang yang diceritakan terhadap wanita yang
sedang digambarkan, maka hatinya tergantung dengannya (menerawang
membayangkannya) sehingga ia jatuh kedalam fitnah. Terkadang yang
menceritakan itu adalah istrinya -sebagaimana dalam hadits dia atas- maka
bisa jadi hal itu mengantarkan pada perceraiannya. Menceritakan kebagusan
wanita lain kepada suami mengandung kerusakan-kerusakan yang tidak terpuji
akibatnya.
posted 17th of June 2017 By al-vazka

Comments
Post a Comment